Friday, 30 May 2014

Double Trouble TB-HIV


Pada mulanya hanya sedikit pengetahuanku tentang  AIDS, HIV dan ODHA, hingga suatu hari sahabat di dunia maya bertanya apa kamu tahu obat bagi penderita ODHA? Dia mengaku sebagai ODHA yang terinfeksi melalui transfusi darah.
Mulanya aku nggak percaya,  dari profil picture di fbnya kuperkirakan usianya sekitar duapuluan begitu muda tapi sudah terinfeksi  virus mematikan seperti itu, bagaimana bisa?Bukankan transfusi darah pun ada prosedurnya?

Stigma negatif akan penyakit AIDS dan HIV membuat temanku tidak berani terang-terangan berobat ke rumah sakit dan mencoba mencari pengobatan alternatif. Kecuali rasa sakit yang dideritanya sudah tak tertahankan lagi baru dia kembali berobat ke Rumah Sakit. Hanya melaui status di facebooknya bisa kurasakan kegalauan yang dia rasakan. 

Terakhir dia mengeluh  sering batuk yang tak kunjung sembuh di status facebooknya. Sepertinya penyakit HIVnya telah berkombinasi dengan Tuberculosis(TB). Terkena virus HIV saja sudah suatu masalah yang besar apalagi kalau HIV berkombinasi dengan TB itu namanya double trouble.

Aku mulai mencari tahu apa itu HIV. HIV (Humans Immunodeficiency virus) menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficency Syndrome). Virus ini menyerang sistim kekebalan tubuh dan menghancurkan sel darah putih (CD4). Ketika terlalu banyak sel CD4 yang rusak, sistem kekebalan tubuh tak mampu lagi melawan infeksi dan disebut infeksi oportunistik. Setelah terinfeksi, seseorang akan menjadi penderita HIV positif(Terlihatnya antibodi) setelah dua atau tiga bulan.  Dan setelah 5-10 tahun orang yang terinfeksi menjadi penderita AIDS. Walau pun ODHA terlihat sehat namun dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain. Jika mereka tidak pernah mengetahui status HIV nya selama rentang waktu ini.

Penularan HIV
Virus HIV tidak menular melalui batuk atau bersin, berjabat tangan, minum dari gelas yang sama, berpelukan atau berciuman, gigitan serangga, tinggal atau bekerja dengan orang yang berpenyakit AIDS atau terinfeksi HIV.
HIV menyebar  melalui darah, sperma atau cairan vagina yang terinfeksi saat melakukan kontak dengan darah atau selaput lendir dari orang yang sehat.Dan juga ibu yang menyusui.

video


Cara Pencegahan HIV
  1. Setia dengan hanya satu pasangan. Tidak melakukan hubungan seksual di luar nikah. Sering Berganti-gantin pasangan  secara heteroseksual merupakan alasan yang paling sering terjadi pada penularan penyakit di seluruh dunia.
  2. Tidak mengkonsumsi NAPZA, proses transmisi melalui jarum suntik yang dipakai secara bersama-sama merupakan salah satu faktor meningkatnya kasus HIV di Indonesia.
  3. Lindungi diri anda dengan kondom.
  4. Mintalah prosedur strerilisasi peralatan yang baik pada fasilitas kesehatan, salon kosmetik atau tempat pangkas.
  5. Lakukan test HIV. Apabila ada kecurigaan tertular HIV dan timbul gejala-gejala aneh seperti bercak-bercak putih pada lidah, radang tenggorokan, diare, berat badan menurun, demam dan berkeringat pada malam hari tanpa sebab yang jelas. Konsultasikan dengan dokter untuk melakukan test.
Ko-infeksi-TB-HIV
  • Pasien ko-infeksi TB-HIV adalah pasien TB dengan HIV positif dan ODHA dengan TB
  • Pada orang dengan sistem imunitas yang menurun misalnya ODHA, infeksi TB laten menjadi TB aktif. Sekitar 60% ODHA yang terinfeksi kuman TB (laten) akan menjadi TB aktif.
Pengaruh HIV terhadap TB
TB dan HIV akan lebih ganas saat bergabung membentuk kombinasi bersama. Infeksi HIV merubah TB laten menjadi TB aktif yang menular-memicu penyebaran penyakit ini- membuatnya lebih sulit untuk menegakkan diagnosis sehingga meningkatkan risiko kematian di antara pasien TB.

Pengaruh TB terhadap HIV
TB adalah infeksi oportunistik yang paling umum pada pasien dengan HIV positif, mempercepat replikasi HIV yang berakibat semakin cepatnya progresifitas penyakit. TB merupakan penyebab utama kematian pada orang terinfeksi HIV (ODHA)


Bagan Kegiatan Kolaborasi TB-HIV
WHO memperkirakan jumlah pasien TB dengan status HIV positif di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 7,5%, terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang hanya 3, 3%(Global Report WHO 2013)
Di Indonesia TB merupakan tantangan bagi pengendalian AIDS karena merupakan infeksi penyerta yang sering terjadi pada ODHA (31,8%). (textbox).


Stadium WHO
Pasien HIV positif dengan TB paru aktif/pulmonary TB(PTB) atau dengan riwayat TB beberapa terakhir termasuk dalam kategori TB stadium III menurut WHO dan mereka yang dengan TB ekstra peru/extra pulmonary TB (EPTB) termasuk kategori stadium IV WHO.
Individu dengan HIV positif, lalu menderita TB  dianggap sudah mengalami AIDS, tidak peduli berapun jumlah sel Tnya.


Tantangan ke depan
Secara umum, tantangan utama kolaborasi TB-HIV adalah:
  1. Meningkatkan jejaring layanan kolaborasi antara program TB dan program HIV di semua tingkatan, komitmen politis dan mobilisasi sumber daya.
  2. Meningkatkan akses tes HIV atas inisiasi petugas kesehatan yang ditunjukan bagi pasien TB dan bagaimana membangun jejaring pelayanan diagnosis dan pengobatan.
  3. Memastikan bahwa pasien yang terdiagnosis TB dan HIV harus mendapatkan pelayanan yang optimal untuk TB dan secara cepat harus dirujuk untuk mendapatkan dukungan dan pengobatan HIV AIDS dalam hal ini termasuk pemberian pengobatan pencegahan dengan Kontrimoksasol dan pemberian ARV.
  4. Memastikan pendekatan pelayanan kepada pasien TB-HIV dengan konsep"one stop services"
  5. Monitoring dan evaluasi kegiatan kolaborasi TB-HIV.
  6. Ekspansi ke seluruh layanan kesehatan di Indonesia.


Sebaiknya Pekerja  medis lebih fokus pada  upaya penanganan  TB terhadap penderita HIV/Aidsk karena itu pembunuh utama penderita HIV/AIDS yang telah kehilangan daya tahan tubuhnya dan rentan terhadap penyakit.

Referensi
- www.tbindonesia.or.id
Health Messengger AMI

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah Berkunjung. Please tinggalkan jejak biar kenal