Wednesday, 11 June 2014

Mengapa Probowo? Mengapa Jokowi?

Tiba-tiba ingat ramalan mama Laurent katanya tahun 2014 ini Indonesia akan dipimpin oleh pemimpin muda yang akan membawa Indonesia lebih maju. Kurang lebih seperti itu isi  ramalannya. Jadi penasaran Prabowo sama Jokowi lebih muda siapa yaa?:D
Menjelang pilpress ini banyak orang mendadak jadi pengamat politik, share-share berita tentang presiden yang didukungnya terkadang berita yang dishare hoax. Memang susah banget bedain mana yang hoax mana yang asli saking menyakinkannya tuh berita belum lagi meme yang beredar.

By the way, any way, busway, dari semua share-share di timelineku di media sosial. Aku jadi rajin baca, dan menarik kesimpulan dari bacaanku neh.
Kalau ingin menjadikan bangsa Indonesia menjadi negara yang maju. Kita harus memilih pemimpin yang terseleksi dengan ketat,  bukan berasal dari figur karbitan media yang mengabaikan pertimbangan-pertimbangan kompetensi, kapasitas, kredibilitas dan integritas sesuai dengan rekam jejak.
Pemimpin yang baik diukur dari tindakannya bukan hanya sekedar pandai berteori tapi miskin dalam pelaksanaannya. Memang mencari sosok pemimpin ideal sangat sulit. Disinilah perlu ditekankan komitmen wawasan kenusantaraan bagi setiap calon pemimpin nasional.”Figur Capres dan Cawapres harus berorientasi politik ganda. Di satu sisi pembangunan nasional yang adil dan merata bagi semua daerah, suku dan golongan di Indonesia serta di sisi lain berorientasi visioner membangun kedaulatan bangsa dan lebih jauh kejayaan nusantara.
Menjadi pemimpin nasional tidak hanya butuh pencitraan saja, tetapi harus didukung dengan track record, sejarah dan pengalaman terkait integritas. Dia harus tegas, cepat menanggani masalah,  berwibawa  disiplin dan menguasai bahasa internasional tentunya
Krisis kepemimpinan terjadi karena setelah terpilih, mereka memerintah, kemudian timbul dengan apa yang dinamakan lunturnya kepercayaan sosial. Hal ini terjadi karena banyaknya pemimpin yang muncul secara instan, seolah dikarbit berkat rekayasa media.
Dalam persoalan memilih pemimpin misalnya tentu setiap warga negara Indonesia punya kriteria tersendiri dalam menentukan pemimpinnya. Namun hendaknya kita menghindari tokoh-tokoh yang bermasalah dari sisi politik, hukum dan ekonomi.
Kalau semua partai politik bermasalah, jadi tergelitik untuk mengusulkan gimana kalau tahun 2019 ntar calon presidennya indepedent aja. Indonesia banyak kok punya tokoh-tokoh hebat, yang berpotensi menjadi presiden hanya saja terkendala peraturan yang mensyaratkan calon presiden minimal didukung oleh partai atau gabungan partai yang meraih 20% kursi di DPR atau 25% suara di pemilu legislatif.
Terus mengenai saling menyudutkan dan menjatuhkan antar pendukung yang terjadi di tv,  fb, bb, twitter, itu membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai melek politik sudah mulai kritis dan sadar bensin yang dibeli, nasi yang dimakan, kendaraan yang dipakai semua itu karena politik.
Terakhir ngutip kata mbak Fahira Idris di twitter"jangan lupa kita ini bersaudara jangan karena pilpress kita jadi perang saudara.

2 comments:

  1. hmmm iya jangan sampai ya cuma gara2 pilpres yang awalnya saudara jd musuh hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak icha, makasih dah berkunjung

      Delete

Terima kasih sudah Berkunjung. Please tinggalkan jejak biar kenal