Tuesday, 8 November 2016

Dari Hobi Baca, Sewain Buku Hingga Nulis Buku


Sejak kecil aku punya hobi baca, hobiku bukan datang dengan sendirinya. Semua bermula ketika aku naik kelas satu SD. Waktu itu aku belum bisa baca, bu guru memintaku membaca buku, aku mengejanya dengan susah payah. Belum selesai satu kalimatku baca, bu guru sudah menyuruh murid lain untuk melanjutkan membaca. 

"Udah, sambung Popy dia belum bisa baca." teringat sekali kata-kata  Bu Guru pada saat itu hingga sekarang. Rasanya perih, walaupun aku masih kelas satu SD aku merasa dipermalukan dan diremehkan oleh Guruku sendiri.
Hatiku panas, di rumah aku berusaha keras untuk bisa membaca. Tiap hari aku latihan membaca. Aku berharap suatu saat ketika aku sudah lancar membaca, bu guru memberi kesempatan kedua untukku membaca di dalam kelas dengan suara lantang dan mengubah penilaiannya tentangku.

Kesempatan itu tidak pernah datang lagi, Ibu guru itu hanya guru penganti, dan dia tak pernah kembali lagi sejak hari itu di kelas kami.

Kembali ke hobi bacaku, sejak kejadian itu aku sukanya bermain sama anak-anak yang pandai di kelas, biar ikutan pandai. Dan ternyata teman-temanku yang pandai itu rata-rata punya koleksi buku bacaan di rumahnya.

Aku sering pergi bermain ke rumah mereka untuk pinjam buku, walau jarak rumahnya lumayan jauh dari rumahku hingga beberapa km tak masalah buatku asal aku bisa membaca.

Aku mulai mengenal majalah bobo, novel lima sekawan, majalah kawanku dan masih banyak bacaan keren lainnya. Di sekolah juga hobi bacaku semakin menjadi setiap jam istirahat perpustakaan menjadi tempatku berlabuh. Saking seringnya di perpustakaan terkadang, petugas perpustakaannya suka minta tolong bantuin nyusun dan pindahin buku di perpustakaan.

Ketika mulai bekerja aku yang hobinya minjam buku sekarang punya hobi baru yaitu beli buku, setiap bulan sengaja kusisihkan budget khusus untuk membeli minimal satu buku sebulan, aku punya obsesi suatu hari nanti bisa memiliki sebuah perpustakaan pribadi.

Setelah menikah hobi membeli bukuku sedikit berkurang, karena kebutuhan hidup…ha…3x.
Suamiku bilang “Kenapa nggak coba nulis buku saja seperti J.K. Rowling dia juga dulu ibu rumah tangga biasa, terus dia nulis buku Harry  Potter yang kemudian laris dan kini dia kaya raya.”

“Kaya raya…kaya raya kata itu terus tergiang di telinga seolah ada yang dengan sengaja mengulangnya. Kalau aku kaya berarti aku bisa bikin perpustakaan donk, Asyik, khayalanku seolah menemukan jalan untuk terwujud.”
*****
Februari 2013 kami menjalani  Long Distance Marriage, seminggu sebelum keberangkatan papanya ke Jepang, seharusnya aku mengikuti acara inagurasi FLP Aceh, tapi anak-anak tiba-tiba sakit demam, seolah tak merestui emaknya punya kegiatan lain.

Mimpiku jadi penulis menjadi buram, dan hampir terkubur. Ketika di timeline FBku tiba-tiba ada iklan kelas menulis yang namanya mirip dengan nama penerbit besar di Indonesia.

Harganya yang sangat murah pada saat itu, mebuatku tertarik mengikuti kursus menulis online. Semula aku sangat bersyukur sekali, bisa mengikuti kursus menulis tersebut, namun keganjilan demi keganjilan terus terjadi dalam selama aku menjalani kursus.

Jam pertemuan yang suka-suka, jam ujian yang suka-suka (aku pernah ujian tanding puisi dari jam 11 malam hingga jam 2 pagi) belum lagi ada scenario gurunya dibilang meninggal karena kecelakaan motor, terus tiba-tiba gurunya hidup lagi dan bilang itu semua hanya sandiwara,  minta sumbangan untuk bikin perpustakaan buat anak-anak jalanan dan terakhir guru menulisku minta tolong dipinjamin uang (benar-benar kursus enulis yang aneh)

Lain waktu aku coba mengikuti kompetisi menulis puisi di facebook dengan syarat harus mentag minimal berapa orang, kalau menang puisinya akan dibukukan dan mendapat sertifikat.

Puisiku terpilih, dan akan dibukukan menjadi antologi bersama pemenang yang lain tapi kok, aku harus bayar untuk buku yang sudah kusumbang puisiku di dalamnya. (lomba yang aneh).

Di lain waktu aku menemukan nama penulis besar di FBku dia berkoar-koar sedang dalam proyek buku baru yang berminat bergabung tinggal inbox, Dia bilang jika mau bergabung  dalam proyeknya harus membeli minimal tiga bukunya dengan judul yang sama dan mengirimkan cerpen hasil karyaku.

Buku sudah kubeli, cerpen sudah kukirim, tahun berlalu namun tak ada kabar tentang kelanjutan proyek itu. (Sepertinya aku sudah tertipu oleh nama besar)

Di saat lain, aku kembali mengikuti kursus menulis online dengan penulis ternama,  yang karyanya ada dimana-mana. Kursusnya bagus, berbobot tapi ideku surut entah kemana untuk mengerjakan tugas saja aku tertatih rasanya masih banyak yang harus kubaca
.
Itulah kisahku dengan buku dari mulai aku mengejanya, mencintainya, mengoleksinya, bermimpi bisa membuatnya meski hingga kini mimpiku belum terwujud tapi aku semakin menghargai setiap kata yang tersusun di seetiap buku yang kubaca.
"Postingan ini diikut sertakan dalam Giveaway Kisah Antara Aku dan Buku"

10 comments:

  1. Pengen banget bisa menulis buku lagi
    ada saran penerbit yang mau menerbitkan buku2 dengan niche hobby kah sist?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba googling mas, aku kurang tau, masih belajar nulis

      Delete
  2. ikut prihatin haeriah... sungguh banyak memang kelas online yang harus diwaspadai...:(

    ReplyDelete
  3. Terimakasih sudah mengikuti GA Kisah Antara Aku dan Buku. Nantikan pengumuman pemenangnya di tanggal 15 Nopember 2016.


    Salam,

    Izzah Annisa

    ReplyDelete
  4. aku juga suka baca buku sedari kecil, Mbak
    suka nulis pulaaaa

    ReplyDelete
  5. Saya juga suka baca buku,mbak. Suka beli buku terus dibiarin ga dibaca-baca juga sering hahahaha..

    ReplyDelete
  6. Memang kita harus hati-hati dalam berkata-kata, ternyata terekam banget ya mbak di hati ... tapi ternyata jadi awal perkenalan dan petualangan dengan buku ya ..

    ReplyDelete
  7. Perjuangan yang hebat mbak, tetap semangat berkarya

    ReplyDelete

Terima kasih sudah Berkunjung. Please tinggalkan jejak biar kenal