Monday, 3 November 2014

You Are The Best Mom

Keluargaku



Mamaku bukan seorang sarjana,  dia hanya lulusan sekolah kejuruan ketika dilamar oleh ayah. Cita-citanya untuk bekerja setelah selesai sekolah tak mendapat restu dari ayah, aku suka lupa  apa alasan ayah melarang mama bekerja tiap kali mama bercerita perihal  itu.
Mamaku mungkin bukan ahli masak tapi aku tahu akan selalu tersedia makanan untuk kumakan yang dimasak oleh mama untuk aku dan saudara-saudaraku.  Teringat dulu  tak jarang kami protes kok menunya itu selalu. Kasihan mama mukanya akan berubah menjadi sendu jerih payahnya memasak tak kami hargai” Maafkan kami Ma”
Kenyataan hidup mengharuskan Ayah dan Mama mengambil keputusan yang sulit demi kelangsungan hidup kami. Ayah harus memilih mau untuk bertugas di Kalimantan atau pensiun dini.
Aku tahu ini pasti keputusan paling sulit yang mereka ambil karena sejak hari itu aku, Mama dan saudara-saudaraku tinggal di Bandung sedangkan ayah bertugas di Kalimantan. Hanya saat libur sekolah tiba Mama bisa mengunjungi Ayah di Kalimantan.
 Aku tak bisa mengingat tiap berapa bulan ayah  mengunjungi kami,  tapi aku ingat, tukang pos  begitu berjasa dan dinanti oleh kami untuk mendapat kabar berita dari ayah dan juga telepon interlokal dari ayah  yang diakhir pembicaraannya selalu berpesan pada kami jangan  nakal.
****
Mengurus enam orang anak, dengan enam karakter, sifat dan usia yang berbeda tentu saja tidak mudah. Apalagi jika harus mengurusnya seorang diri. Belum lagi pekerjaan rumah tangga lainnya yang juga harus dikerjakan, belanja, memasak, mencuci, setrika, membersihkan rumah dan masih banyak lagi.
Semua harus dikerjakannya seorang diri karena sulit  sekali mendapatkan seorang pembantu rumah tangga yang bisa dipercaya (Beberapa pembantu membawa serta barang-barang kami tanpa izin  ketika pulang kampung, ada juga  pembantu ketika kami minta pertolongannya seperti mencuci baju dia meminta upah lagi, tentu saja tanpa sepengetahuan mama)
 Terbayang betapa lelahnya Mama mengurus ini itu sendiri. Belum lagi jika diantara kami ada yang beratem. Membuat heboh satu rumah dengan teriakan kami yang tentu saja membuat sakit kepala.
“Mama pilih kasih” sering kata-kata itu terucap dari mulut kami jika salah satu dari kami tidak dibela ketika bertengkar atau ketika mama terkesan menganakemaskan salah satu dari kami.  Yang tentu saja membuat Mama sedih. “ Nanti kalau kamu jadi ibu baru kamu ngerti.”
*****
Sekarang aku sudah menikah dan menjadi seorang Ibu. Mama  masih tetap setia dalam setiap langkahku. Ketika aku hendak melahirkan pasti ada Mama dan Suami di sampingku. Ketika Suami tugas di luar kota, rumah Mama pasti tempat pertama kutuju sambil menanti suami kembali dari tugasnya.
Sehari, sebulan, setahun rumah Mama menjadi saksi  penantianku menunggu suami pulang dinas di luar kota dan luar negeri. Mama dengan setia membantuku menjaga dan merawat anak-anak ketika Suami tak ada.
Tergiang kembali kata-kata itu”Nanti kalau kamu jadi ibu baru kamu ngerti”  Kini aku mengerti makna  kata-kata itu. Berat ternyata menjadi seorang ibu. Tugas rumah tangga yang tiada henti. Anak rewel  tak henti, selalu minta dimengerti dan diperhatikan karena tak paham betapa  tubuh ini lelah  setelah bekerja mengurus ini dan itu seharian agar semua anggota keluarga merasa senang.
Aku tak bisa bayangkan hidupku tanpamu Ma. Andai waktu bisa diputar lagi . Aku berjanji akan menjadi anak baik dan tak membuatmu bersedih hati. Tapi waktu lalu tak bisa kembali. Aku hanya bisa meminta maafmu Ma, atas semua kesedihan  dan luka yang kuciptakan. I love you, you are the best mom.



Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera

25 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. ya Allah, selalu terharu dan ingin menangis kalo cerita tentang ibu ya mbak.. semoga ibu-ibu kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya neh mbak dame, jadi ingin ke rumah ibu nulis gara-gara nulis cerita beh.kangen rumah

      Delete
  3. ibu memang memiliki hati seluas samudera ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener mbak santi, jadi ibu dan calon ibu harus punya hati seluas samudera

      Delete
  4. Nanti kalau kamu jadi ibu baru kamu ngerti”
    ibu saya juga suka bilang begitu. setleahh jadi ibu baru terasa berat prjungannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kadang2 sesuatu baru bisa dijelaskan jika kita sudah mengalaminya

      Delete
  5. ibu memang luar biasa ya
    tak tergantikan

    ReplyDelete
  6. Cinta ibu memang tak tertandingi.. :))

    ReplyDelete
  7. Setelah menjadi ibu ternyata baru terasa apa-apa yang telah dilakukan ibu dulu kepada kita

    ReplyDelete
  8. Semoga para ibunda (termasuk kita) senantiasa dianugerasi kesabaran...kesehatan...keberkahan....

    ReplyDelete
  9. terkadan memang saat kita menjalani sebagai ibu..barulah kita mengerti semua yang dimaksud oleh ibu kita..selamat berlomba, semoga menjadi yang terbaik..keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin, terima kasih dah singgah banh hariyanto

      Delete
  10. kita baru faham...., setelah kita melwati semua.... Apa lagi setelah menjadi istri dan ibu...., selalu terbersit penyesalan setelahnya.....

    ReplyDelete
  11. Bener banget mba, kita baru tau betapa beratnya apa yg dialami ibu kita dulu saat kita sudah jadi ibu sekarang. Duuuhh... dosaku pada ibuku tak terbilang deh :(

    ReplyDelete
  12. Hmmmm Mama, Mama, Mama ... di hati anak-anaknya selalu dilukiskan dengan kata2 terimakasih yang banyak.

    http://nahlatulazhar-penuliscinta.blogspot.com/2014/11/mama-rahasia-di-bali-kediaman.html

    ReplyDelete

Terima kasih sudah Berkunjung. Please tinggalkan jejak biar kenal