Wednesday, 1 January 2014

Muhasabah Cinta

“Bohong! Tidak mungkin Ali seperti itu!”
“Untuk apa aku berbohong, tak ada untungnya sama sekali. Matamu telah dibutakan cinta hingga kau tak menyadari dia hanya mempermainkanmu saja.”
“Ali mencintaiku, dia berjanji akan menikah denganku.”
“Kau bilang cinta! Mau menikah! Naif sekali dirimu, kau bahkan tak tahu Ali itu siapa. Aku tak akan pernah setuju kau menikah dengannya”
“Apa hakmu melarangku?”
“Aku ini abangmu. Pasti ingin yang terbaik agar kau bahagia. Bukan buaya darat yang mengaku cinta dan memberi janji semata tanpa bukti yang nyata.”
“Mana buktinya kalau Ali memperalatku?”
“Bukti! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia bergandengan mesra dengan seorang dara. Kelihatan dari raut wajahnya kalau dia mencintainya.”
“Lantas kenapa abang tidak menegurnya?”
“Untuk apa? Ketika mata kami tak sengaja bertatapan hanya sekilas raut mukanya terkejut melihatku, dan segera menguasai keadaan berlalu begitu saja seolah tak terjadi apa-apa. Tak sedikitpun rasa bersalah, dasar buaya. Dia bahkan menganggapku tak ada.”
“Tidak mungkin, dia seperti itu”
“Aku tahu kau sangat sayang padanya. Tapi kau pertimbangkan lagi apa yang kukatakan. Jangan sampai menyesal kemudian. Itu sebabnya ayah tak pernah mengizinkan anak-anaknya pacaran sebelum menikah. Akan banyak hati yang kecewa dan terluka karenanya. Baiklah, Abang pergi dulu masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Assalamualaikun”
“Waa’laikumsalam warahmatullah”
Kutermangu di ruang ini, pikiranku terbang bersama angin waktu, melayang-layang ke masa lalu, dan mendarat di tempat pertama kali kita bertemu. Kala itu tak sengaja tangan kita beradu. Ketika  kau coba membantu membawakan buku-bukuku yang terjatuh karena menabrakmu yang sedang buru-buru.
“Maaf, bukunya jadi jatuh semua. Kenalin aku Ali kuliah di teknik mesin. Kamu?”
“Ana”
“Kuliah di teknik arsitektur ya?”
“Kok tahu?”
“Soalnya di kampus ini yang banyak mahasiswinya, cuma teknik arsitektur”
“Ooh”
“O itu bulat”
“Apa? Nggak ngerti maksudnya?”
“Kalau kita bilang huruf O, mulutku pasti jadi bulat.”
Aku hanya tersenyum mendengar penjelasanmu. Begitu lihainya kau memainkan kata-kata. Hingga aku lupa kesalahanmu menabrakku.”
“Ini buku-bukunya dah beres semua. Maaf yaa, nggak sengaja. Aku masih ada kuliah, lain kali bisa ngobrol lagi?”aku hanya mengangguk
“Dah Ana!” pamitmu padaku seolah kita sudah mengenal lama.
*****
Kantin teknik  di jam makan siang seperti ini selalu ramai. Berharap masih ada bangku kosong, perutku mulai keroncongan. Hari ini kuliahku padat sekali,  dan dari pagi cuma sarapan roti.
“Hei Ana duduk disini saja” aku hanya diam memantung masih ragu. Tempat duduk yang kau tawarkan  begitu sempit, dan penuh dengan teman-temanmu yang rata-rata laki-laki.
“Ayo sini. Mereka dah pada selesai kok! Huss...huss...ayo gantian masih banyak yang lapar”
Seolah tahu isi kepalaku. Kaupun mengusir teman-temanmu dengan mimik yang lucu. Tampak gerutuan di antara teman-temanmu tak rela diusir seperti itu.
“Iya, iya....kami duluan. Pak komting kalau lagi lapar ngeri. Main usir-usir orang.”
“Ayo Ana ini bangkunya sudah kosong.” Sepertinya memang tidak ada pilihan lain hanya bangku di sampingmu saja yang kosong. Kumantapkan hati menghampirimu.
“Nah, gitu donk.  Aku nggak akan gigit kok. Jangan takut” aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Benar-benar orang yang ramah dan humoris.
“Diantara miliaran manusia. Pasti Tuhan mempunyai alasan kenapa kita dipertemukan. ”
“Maaf, aku nggak ngerti maksudmu bisa dijelaskan?”
“Ha..ha..ha, nggak perlu minta maaf lagi. Kamu orangnya nggak pernah bercanda ya? Maksudku dalam sehari ini sudah dua kali kita bertemu tanpa disengaja. Pasti Tuhan mempunyai alasan kenapa kita dipertemukan? Mungkin kita jodoh”
Seringan itu dia mengatakannya baru dua kali berjumpa tanpa direncanakan benarkah ini disebut jodoh. Terlalu tinggi dia memberi harapan. Apa mungkin semua laki-laki seperti itu? Pandai merangkai kata dan merayu kepada semua wanita yang dijumpainya.
“Hai, bengong aja. Kamu kenapa lagi ada masalah? Coba cerita siapa tahu aku bisa bantu. Ngomong-ngomong makan siangnya aku yang bayar ya. Sebagai permintaan maaf karena menabrakmu tadi pagi.”
“ Nggak perlu, aku bisa bayar sendiri.”
“ Jangan gitu donk atau jangan-jangan kamu masih marah karena kutabrak tadi pagi?”
“Nggak, bukan gitu.  Aku nggak biasa aja dibayarin sama orang yang baru kenal.”
“Oh gitu, kenapa? Takut diguna-guna? Tenang aku bukan orang seperti itu kok atau kalau kamu nggak mau dibayarin gimana kalau aku antar pulang saja?”
“Nggak usah makasih, santai ajalah aku nggak marah kok. Nggak usah lebay gitu.”
“Kenapa, takut pacarnya marah yaa?”
“Aku nggak punya pacar dan nggak minat pacaran”
“Kenapa punya pengalaman pahit sama mantan pacar? Kamu bukan pencinta sesama jeniskan?”
“Mau kamu apa sih! Ngajak berantem nanya kaya gitu, aku cewek normal. Aku suka laki-laki tapi aku nggak pacaran sebelum menikah.”
“Aduh maaf, jangan salah paham dulu. Jarang sekali aku temui cewek cantik seperti kamu tapi nggak punya pacar itu aja. Maaf kalau pertanyaanku membuatmu tersinggung.”
“Terus sekarang sudah tahu, aku nggak punya pacar kamu mau apa?”
“Nggak apa-apa, sebenarnya mau daftar jadi pacar. Tapi nggak buka lowongan ya?”
“Memangnya pekerjaan pakai buka lowongan?”
“Kamu tambah manis kalau lagi marah kaya gitu. Tapi aku masih penasaran dengan prinsip kamu nggak pacaran sebelum menikah. Apa kamu nggak bakalan merasa membeli kucing dalam karung.”
“Kamu pandai ngegombal yaa. Apa semua perempuan kamu rayu seperti ini?
“Tidak hanya orang yang kusuka saja. Kamu belum jawab pertanyaanku?
“Pertanyaa yang mana? Memangnya penting jawabanku?”
“Penting banget.”
“Karena pacar belum tentu jadi suami. Suami sudah pasti jadi pacar. Aku tidak suka sesuatu yang tidak pasti. Itu hanya membuang energi. Yuk kita makan, pesanannya dah sampai.”
Dua  piring mie Aceh dan dua gelas air putih tersaji di meja kami. Sungguh menguggah selera dengan rasanya yang khas  apalagi disajikan dengan kepiting. Sayang di kantin kami hanya  terdapat menu standar mie Aceh dengan tambahan kerupuk muling dan acar sebagai pelengkap.
“Penggemar mie Aceh juga yaa? Tanyamu sambil makan.
“Banget. Kalau lagi makan jangan sambil ngomong nanti keselek.”
“Kalau nggak sambil makan kaya gini belum  tentu bakal ada kesempatan ngobrol denganmu lagi. Uhuk...uhuk.”
“Baru diomongin udah kejadian. Neh minum biar enakan”
“Aduh sakit  banget keselek cabe. Makasih yaa. Tempat tinggalmu dimana? Boleh kuantar pulang?”
“Nggak usah makasih, aku naik labi-labi aja.
“Ana lain kali kita ngobrol lagi yaa.”
“Oke”
***
“Assalamualaikum.”tok...tok...tok “assalamualaikum”
Ketukan di pintu dan ucapan salam membuyarkan lamunanku. Cut sahabatku datang. Sudah lama kami tak bersua sejak dia menikah dan memutuskan ikut dengan suaminya ke Jakarta.
“Masuk Cut, sudah lama banget yaa kita nggak ketemu. Apa kabar? Tumben neh bisa main lagi kemari. “ tanyaku sambil memeluk dan cium pipi kanan  dan kiri Icut.”
“Baik, alhamdulillah. Iya, kebetulan suamiku meninjau proyek disini. Ya sudah sekalian aku minta ikut kangen sama kamu dan teman-teman yang lain. Kapan neh aku dapat undangannya?”
“”Undangan apa?”
“Undangan pernikahanmulah, apa lagi. Aku ingin tahu lelaki mana yang berhasil menaklukan putri salju sepertimu.”
Aku hanya tertawa mendengar perkataan Icut. Putri salju gelar yang diberi padaku, karena dinginnya sikapku pada laki-laki dan sering membuat mereka patah hati. Tapi sekarang lihatlah aku begitu menyedihkan seolah karma menimpaku. Aku menelan kata-kataku sendiri.
“Na, kamu kenapa? Apa ada yang salah ya dengan kata-kataku? Aku minta maaf”
“Nggak kok, kamu nggak salah apa-apa. Aku cuma terharu kita bisa ketemu lagi.”
“Ngomong-ngomong, gimana kabar Ali?” kuterdiam, ragu untuk menjawab. Kenapa hari ini semua orang mendadak peduli dengan kabar Ali.
“Nggak tahu.” jawabku lirih
“Kok, bisa nggak tahu? kamukan pacarnya.”
Pacar itu apa? kenapa menjadi kabur definisinya setelah aku bertemu Ali. Prinsipku tidak ada pacaran sebelum menikah goyah karena sikapnya yang pantang menyerah walau berkali-kali kutolak. Dia tetap rajin menyapa sekedar tanya kabar. Bahkan terakhir dia berhasil mendapatkan nomor hapeku tanpa harus kuberi tahu. Semua tentang Ali telah merubah hidupku. 
“Na, kamu nggak apa-apa? Kok, bisa nggak tahu? kamukan pacarnya.” Icut mengulang kembali pertanyaan. Seolah menegaskan dia tak puas dengan jawabanku.
“Yaa aku nggak tahu. Setelah tsunami dia mulai sulit untuk dihubungi. Pernah kucoba menunggu di tempat kuliahnya mencoba mencari penjelasan atas hubungan kami. Tapi dia berhasil menghindar. sms nggak dibalas. Telepon nggak diangkat. Aku digantung dengan cintanya.”
“Ya ampun. Memang yaa tuh anak raja tega. Berani-beraninya dia mainin sahabatku. Terus-terus?”
“ Yaa aku nggak tahu harus gimana? Tadi Bang Hasan bilang dia melihat Ali bergandengan tangan mesra dengan seorang dara. Dan berpura-pura tak kenal dengan Bang Hasan.”  
“Ampun deh memang benar-benar keterlaluan yaa tuh si Ali. Lihat aja nanti kalau sampai ketemu kuberi pelajaran dia. Terus alasan kamu masih single fighter sampai sekarang karena nunggu kepastian dari Ali?”
“Iya”
“Aduh, Ana...Ana. Kamu tuh hidup di zaman apa sih? Kok lugu banget jadi orang. Ngapain buang-buang waktu dan energi sama orang yang nggak peduli dengan kita. Kenapa juga nggak segera cari ganti? Laki-laki di dunia ini nggak Cuma Ali.”
“Iya tahu tapi cuma Ali yang berhasil mencuri hatiku. Begitu banyak janji dan mimpi yang diberi. Kamu tahu dari kecil aku terobsesi untuk menikahi cinta pertamaku dan itu akan menjadi cinta yang terakhir.”
“Iya, tapi lihat kenyataannya sekarang. Di mana Ali saat dibutuhkan. Tsunami sudah lewat sembilan tahun yang lalu sayang. Dan kamu masih setia menunggu Ali. Itu benar-benar perbuatan yang bodoh sekali.”
“Tapi...”
“Nggak ada tapi-tapian lihat umurmu sekarang hampir kepala tiga, masih sendirian. Apa kata orang?”
“Biar saja orang mau bilang apa, yang penting aku nyaman dengan keadaanku.”
“Oya! Benarkah? Kenapa  aku sanksi mendengarnya. Oke sekarang waktunya kamu bangun puteri salju. Hapus khayalanmu tentang cinta pertama menjadi cinta terakhir. Hapus juga kenanganmu dengan Ali. Dia tak lebih dari seorang buaya kelas teri yang nggak tahu diri.”
“Aku nggak bisa.”
“Kenapa nggak bisa? Kamu nggak diapa-apain sama Ali kan? Kamu masih perawankan?”
“Yaa Allah, Icut. Sampai hati kamu menuduhku seperti itu. Jelek-jelek begini aku masih punya iman.”
“Lalu apa alasanmu masih menunggu Ali yang nggak jelas batang hidungnya ada dimana? Cuma keperawanan satu-satunya alasan kenapa seorang wanita tak bisa melupakan seorang pria. Maaf kalau kata-kataku menyakitimu. Tapi ini untuk kebaikanmu tak akan kubiarkan kau merana lagi karena Ali.”
“Tapi aku tak bisa.”
“Harus bisa! Hidup cuma sekali jangan sia-siakan umurmu menunggu orang yang nggak pantas ditunggu. Seorang pria sejati tak akan membiarkan wanita pujaannya merana. Kalau dia pria sejati dia pasti segera melegalkan hubungan kalian ke pernikahan bukan menghilang begitu saja tanpa memberi kepastian.
Aku hanya terdiam mendengar  perkataan Icut yang berapi-api. Tak pernah kulihat dia begitu emosi seperti sekarang ini. Ah semua gara-gara Ali hidupku yang sempurna jadi berantakan. Sekarang baru benar-benar aku mengerti kenapa ayah melarang anak-anaknya pacaran sebelum menikah.”
“Na, jangan kau buang-buang diri lagi. Menanti yang tak pasti. Coba kau mulai buka hatimu lagi. Sakit karena cinta akan terobati dengan hadirnya cinta kembali. Saat satu pintu tertutup pasti ada pintu lain yang terbuka. Jangan terlalu lama meratapi pintu yang tertutup itu. Kamu ngertikan maksudku.”
“Iya” jawabku lirih nyaris tak terdengar
“Aku bilang ini karena aku peduli.”
“Aku tahu.”
“Kalau gitu tunggu apa lagi? Mulai sekarang lumpuhkan semua ingatanmu tentang Ali. Anggap saja dia sudah mati. Dan orang mati tak pantas selalu ditangisi.”
“Apa aku bisa?”
“Kamu pasti bisa. Asal giat berlatih dan minum Milo setiap hari.”segera kucubit pinggang Icut
“Icut, orang serius juga.”
“Maaf... maaf becanda. Yaa pasti bisa. Kamu cantik, pinter hanya cowok bodoh yang nggak mau punya istri sepertimu. Atau sekarang gini aja cowok mana yang kamu suka tinggal tunjuk biar Icut urusin.”
“Memangnya kalau ada coeok yang aku suka udah pasti Icut kenal? pake acara urusin segala.”
“ Enggak sih, atau gini aja ntar aku kenalin deh sama teman-temanku yang masih jomblo siapa tahu ada yang cocok.“
“Makasih yaa Cut buat semuanya.”
“Jangan bilang makasih dulu. Ntar kalau udah jodoh baru bilang makasih dan jangan lupa traktir aku makan  merayakan suksesnya aku jadi mak comblang.”
“Beres boss.”
“Ngomong-ngomong aku pamit pulang dulu yaa. Neh suamiku dah sms katanya dia dah ada di depan lorong.”
“Kenapa nggak disuruh masuk aja sekalian?”
“Katanya dia lagi buru-buru ada meeting lagi habis magrib. Yuk aku duluan. Ingat pesanku jangan ada lagi yang namanya Ali dalam memorimu”
“Siap boss.”
***

Dua puluh sembilan tahun usiaku kini. Perawan tua titel yang mulai disematkan padaku. Hanya karena aku belum menikah. Tapi menikah juga butuh banyak pertimbangan. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Salah memilih bisa jadi masalah di kemudian hari. Haruskah  aku menerima siapa saa yang datang  demi mengejar titel istri?
Aku tetap berbaik sangka dan terus memperbaiki diri. Menemukan jodoh ternyata seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Pengalaman pahit dengan Ali membuatku lebih berhati-hati lagi dalam berhubungan dengan lawan jenis.
Harapanku akan jodoh sebenarnya sederhana sekali. Aku ingin menikah dengan orang yang bisa membuatku tertawa, sesedih apapun aku. Membuatku merasa cantik, sejelek apapun aku. Dan membuatku merasa kaya semiskin apapun aku.
Dan dari segi penampilan suamiku itu harus menenangkan hati ketika kulihat. Suaranya harus bagus jadi aku tak akan bosan mendengar jika dia menasehati.  Satu  lagi dia harus pandai mengaji dan wawasannya luas. Sederhanakan kriteriaku?

Kerupuk muling= kerupuk yang terbuat dari melinjo
Labi-labi= sebutan untuk angkutan umum di Aceh
Lorong= gang/jalan selebar 3-4 meter
Komting= Komisaris letting/ ketua kelas antar angkatan/letting


No comments:

Post a comment

Terima kasih sudah Berkunjung. Please tinggalkan jejak biar kenal