Showing posts with label jodoh. Show all posts
Showing posts with label jodoh. Show all posts

Wednesday 11 October 2017

Biar dapat Jodoh, Sedekah Terus?

Jadi tulisanku yang paling banyak dibaca diblog ini  dan berdasarkan orang yang inbox, email, nyapa di fb tuh kebanyakan yang berkenaan dengan jodoh.

Tuesday 3 February 2015

Sedekah Membuatku Bertemu Jodoh

Kalau ingat keajaiban sedekah, aku jadi teringat pengalamanku sendiri ketika mencari Jodoh. Memang sedekah itu bukan suatu penyelesaian masalah dalam hal mencari jodoh. Tapi, dengan bersedekah selain juga dengan terus berusaha dan berdoa, ternyata mempermudah langkahku bertemu jodoh. 

*****

Genap, dua tujuh usiaku saat itu usia yang matang untuk menikah. Ada suatu kejadian di masa lalu, yang sedikit membuat trauma dan males berurusan dengan makhluk yang bernama cowok apalagi kalau kudu main perasaan-perasaaan segala.

 

Satu persatu sahabatku menemukan pasangan hidupnya, membuatku tersadar untuk segera move on. Berpacu dengan umur, belajar dari pengalaman masa lalu, untuk lebih berhati-hati menentukan pilihan hati. 

 “Di tempat kerjamu orang laki-lakinya banyak, apa tidak ada satu yang kena di hati? Kamu terlalu milih-milih jodoh. Lihat kawan-kawanmu sudah menikah semua. Kamu kapan?”

Pertanyaan yang sering kudengar akhir-akhir ini. Baik itu dari orang tua, saudara bahkan teman-teman. Ada yang bersimpati, dengan menawarkan kenalannya yang masih lajang. Ada juga yang hanya menyalahkan. "Gelisahku karena lingkungan. Mencari jodohkan tak semudah membalik telapak tangan. Haruskah kumenerima siapa saja yang datang demi mengejar gelar istri?

****

Berbagai cara sudah kuterapkan dalam mencari jodoh. Dari baca buku, berdoa, travelling. Bahkan aku yang paling cuek dengan penampilan sekarang mulai rajin membersihkan wajah dan melakukan perawatan ini dan itu. Sungguh suatu keajaiban tapi belum juga ada tanda-tanda bertemu jodohku.

 Aku tetap berbaik sangka dan terus memperbaiki diri. Menemukan jodoh ternyata seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami...

 Harapanku akan jodoh sebenarnya sederhana sekali. Aku ingin menikah dengan orang yang bisa membuatku tertawa, sesedih apapun aku.

Membuatku merasa cantik, sejelek apapun aku. Dan membuatku merasa kaya semiskin apapun aku.

Membuatku merasa sehat sesakit apapun aku.Dan Berjanji tak akan menyakiti aku baik lahir maupun batin.

Dan dari segi penampilan suamiku itu harus menenangkan hati ketika kulihat. Suaranya harus bagus jadi aku tak akan bosan mendengar jika dia menasehati. Satu lagi dia harus pandai mengaji dan wawasannya luas. 

 Yaa, mungkin kriteriaku terlalu tinggi, dan mungkin aku juga nggak sadar diri. Pasang kriteria yang terlalu muluk, tapi aku yakin Allah itu maha pemberi dan tak ada yang tidak mungkin, jika Dia berkehendak.

 Untuk mengisi hati yang kosong aku jadi sering mengikuti berbagai siraman rohani.

 "Membeli jodoh dengan sedekah" Judul ceramah saat itu sangat mengena di hati sesuai sekali dengan keadaanku.

 Yaa sedekah itu ikhtiarku yang kurang. Kenapa tak terpikir dari dulu. Semangatku bangkit lagi. Aku jadi rajin bersedekah. Setiap pengemis yang datang pasti kuberi uang. Dan apabila pergi ke mesjid, tak lupa kumampir di kotak sumbangan.

 Sekedar memberi infaq, bila biasanya cuma seribu kali ini infaq kutingkatkan nominalnya. Disertai doa yang tak henti di tahajud malamku berserta kriteria jodohku nanti.

**&&&**

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kerjaan yang menumpuk membuatku sedikit lupa masalah jodoh. Kontrak kerjaku hampir habis, semua pekerjaan harus segera diselesaikan.

 Stress melanda, mukaku yang biasa mulus kini berhiaskan jerawat. Cukup membuat kesan merona di kedua pipiku.

Pose kepaksa waktu jerawatan

Seorang teman lama menelepon. Dulu aku pernah meminta untuk mencarikan jodoh padanya. Dan hari ini dia menelepon karena ada temannya yang mau kenalan denganku.

Malu, nggak pede dan lagi banyak kerjaan pada saat itu. Membuatku menolak tawaran itu, tapi teman lamaku memberi alternatif jalan agar kami bisa kenalan,  melalui yahoo messengger.

 

Foto bareng Mak comblangku (Baju merah), cuma bisa balas kebaikannya dengan doa

Setelah saling meng-add akun ym. Singkat kata, kami mulai bertukar nomor hape dan juga akun friendster. Foto profilnya biasa saja, tak ada getar ketika melihatnya. Suka mendaki gunung, lulusan telekomunikasi. Lumayan dari segi tampang. Sepertinya orang yang menyenangkan. Terlihat dari komentar-komentar temannya difriendster.

****

Hari ini kami akan kopi darat. Setelah seminggu berkomunikasi lewat ym. Aku tidak mau buang-buang energi dari perkenalan ini. Sejak awal sudah kutegaskan, mencari suami bukan pacar.

Sengajaku  membawa buku untuk menutupi wajah. Setidaknya jika dia tidak serius mencariku. Mukaku bisa kututup buku agar tidak ketahuan  kalau aku sudah ada di situ.

 "Seperti ada angin yang berhembus ketika dia berjalan.Walau ini pertama kali bertemu, tapi terasa sudah lama sekali kumengenalnya. Perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya  dengan lelaki mana  pun sebelumnya."

 Dan hanya hitungan minggu saja kami sudah saling bertemu keluarga. Dia begitu sesuai dengan doa yang kupanjatkan selama ini. Baik dari segi sifat maupun penampilan.

Ini pasti jawaban doaku. Doa yang diiringi dengan iktiar dan sedekah yang membuatku akhirnya bertemu jodoh.Tahun ini  tanpa terasa sudah enam tahun kami  menjadi suami istri sejak saat itu.

 

Foto Keluarga di perayaan enam tahun pernikahan kami


.

Thursday 16 January 2014

Jodoh Satu Klik


Susah benar cari calon suami sekarang ini. Ada yang baik tapi tampangnya pas-pasan. Ketemu yang  ganteng tapi pacarnya ada tiap tikungan jalan. Giliran ketemu yang nyaris sempurna dari segi penampilan dan wawasan, eh penghasilannya kurang.”
“Matre kamu!” Jawabku sambil ngakak
 “Eits, realistis itu namanya! Memangnya kamu mau menikah dengan pria yang tidak mempunyai penghasilan? Mau merid dengan modal cinta doank? Jangan naif deh! Hari gini  merid modal cinta doank yang benar saja.”
Pendapat Rini memang ada benarnya. Banyak pernikahan yang kandas hanya karena kurangnya materi. Tetapi banyak juga orang yang bergelimang harta justru pernikahannya tidak  bahagia. Di situ perlunya cinta untuk menguatkan.
“Eh, ditanya malah bengong. Kriteria calon suamimu kaya gimana? Aku jadi penasaran.”
“Kalo aku sih, yang penting kepribadiannya. Rumah pribadi, mobil pribadi...” jawabku asal, sukses membuahkan sebuah cubitan di pinggang.
“Yei, diajakin ngomong serius juga. Mentang-mentang teman cowoknya banyak. Tinggal dipilih mana yang suka. Trus merid deh.”
“Bukan gitu Rin, usia kitakan masih muda baru juga dua puluh tahun untuk apa memilirkan  hal seperti itu sekarang. Kalo kata Dewa19, jalan kita masih panjang.”
“Justru dari sekarang kita masih bisa pasang kriteria yang tinggi. Masih banyak pilihan yang datang. Kalo umur kita dua tujuh, mulai obral deh kriterianya. Siapapun yang datang asal laki-laki dan baik kita terima daripada dibilang perawan tua.”
“Memangnya barang diobral? Jodoh tuh sudah ada yang mengatur. Santai sajalah, semua sudah diciptakan berpasangan. Ada siang dan malam, Ada laki-laki dan wanita.”
“Iya deh, yang punya banyak calon. Bisa tenang soal jodoh. Ngomong-ngomong aku balik dulu yaa  Ria, sudah mau magrib. Takut kemalaman sampai di rumah.”
**&&&**
Dua tujuh kini umurku. Masih sendiri. Sementara satu persatu sahabatku sudah menemukan pasangan hidupnya. Seringkali undangan yang datang justru menambah rasa kesepian di hatiku.
Dadaku sesak dengan campuran rasa antara bahagia dan iri. Iri karena pencarian mereka akan jodoh pemberian Tuhan telah berakhir. Sedangkan aku masih meraba-raba siapa sebenarnya belahan jiwa. Tak terasa air mata menepi di pelupuk mata.
“Di tempat kerjamu orang laki-lakinya banyak, apa tidak ada satu yang kena di hati? Kamu terlalu milih-milih jodoh. Lihat kawan-kawanmu sudah menikah semua. Rini malah anaknya sudah dua. Kamu kapan?”
Pertanyaan  yang sering kudengar akhir-akhir ini. Baik itu dari orang tua, saudara bahkan teman-teman. Ada yang  bersimpati, dengan menawarkan kenalannya yang masih lajang. Ada juga yang hanya menyalahkan. Gelisahku karena lingkungan. Mencari jodohkan tak semudah membalik telapak tangan. Haruskah kumenerima siapa saja yang datang demi mengejar gelar istri.
**&&&**
Berbagai  cara sudah kuterapkan dalam mencari jodoh. Dari baca buku, berdoa, travelling. Bahkan aku yang paling cuek dengan penampilan sekarang mulai rajin membersihkan wajah dan melakukan perawatan ini dan itu. Sungguh suatu keajaiban tapi belum  juga ada tanda-tanda bertemu jodohku.
Aku tetap berbaik sangka dan terus memperbaiki diri. Menemukan jodoh ternyata seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami...
Harapanku akan jodoh sebenarnya sederhana sekali. Aku ingin menikah dengan orang yang bisa membuatku tertawa, sesedih apapun aku. Membuatku merasa cantik, sejelek apapun aku. Dan membuatku merasa kaya semiskin apapun aku.
Dan dari segi penampilan suamiku itu harus menenangkan hati ketika kulihat. Suaranya harus bagus jadi aku tak akan bosan mendengar jika dia menasehati.  Satu  lagi dia harus pandai mengaji dan wawasannya luas. Sederhanakan kriteriaku?
**&&&**
 Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Pekerjaan yang menumpuk membuatku sedikit lupa masalah jodoh. Semua pekerjaan dituntut segera diselesaikan. Sungguh sangat melelahkan. Stress melanda, mukaku yang biasa mulus kini berhiaskan jerawat batu.  Cukup membuat kesan merona di kedua pipi. Apalagi setelah project ini kontrak kerjaku selesai. Benar-benar hidup yang sempurna.
Tiba-tiba di yahoo messeger ku terlihat Eni mengirim pesan
 “Rie bisa nggak ke tempatku sekarang? Ada temanku mo kenalan.”
” Aduh Eni, kerjaanku lagi banyak dan aku juga nggak pede mukaku hancur begini”
“Ya udah kalau gitu, ini Yahoo messegernya jangan lupa diadd”
“Oke” jawabku singkat
Akupun melanjutkan pekerjaanku, ada-ada saja si Eni   mau kenalin cowok pas mukaku hancur nggak karuan kaya gini. Baru lima menit aku meneruskan pekerjaan, yahoo messegerku mengirimkan pesan Eni lagi.
Sudah di add belum Yahoo messeger temanku? jangan lupa diadd yaa

Ya ampun si Eni nggak sabaran amat jadi orang. Memang dikiranya mudah apa nge-add orang jadi teman. Hanya sekedar klik tanpa pertimbangan. Zaman sekarang nemu orang baik di dunia nyata tuh jarang terjadi. Apalagi ini, kenalan lewat dunia maya. Apa sih yang diharap dari perkenalan ini. Tahu orangnya juga tidak.
 “Cring“ yahoo messeger  kuberbunyi lagi. Eni mengulang pesannya. Menyadarkanku dari lamunan. Apa sih kelebihan temannya. Kok ngotot banget Eni, menyuruh aku add dia jadi teman. Bimbang masih melanda, tapi kuputuskan untuk membuka hati kali ini.
Tak ada salahnya mencoba. Toh kalau memang tidak sesuai tinggal ku remove saja.  Kenapa harus khawatir berlebihan hanya karena pernah disakiti sekali. Untuk menyembuhkan luka cinta harus diobati dengan cinta juga. Mungkin saja kali ini memang berjodoh.
"Iya sekarang ku add”
“Hai aku disuruh Eni nge add kamu, Kenalin namaku Ria”
“Hai juga namaku Julio”
Dan obrolan kita berlanjut dengan serunya. Belum pernah ada laki-laki yang bisa menandingi kumemberi argumen sebelumnya. Kita mulai bertukar nomor hp dan fb(facebook) supaya tahu rupa masing-masing.
Foto profilnya biasa saja, tak ada getar ketika melihatnya. Suka mendaki gunung, lulusan  telekomunikasi. Lumayan dari segi tampang. Sepertinya orang yang menyenangkan. Terlihat dari komentar-komentar temannya difacebook.

Hidupku mulai berwarna lagi. Tapi  aku masih ragu, jika belum bertemu langsung. Bisa saja foto yang ditampilkan palsu. Atau hasil edit dengan photoshop  sehingga tak berbekas aslinya bagaimana. Mungkin juga dia menyangka hal sama. Mengira diriku cantik dan manis sedemikian rupa. Walau sudah kujelaskan wajahku hancur sekarang.
Aku tidak mau buang-buang energi dari perkenalan ini. Sejak awal sudah kutegaskan, mencari suami bukan pacar. Lebih baik terluka sekarang daripada ketika perasaanku tumbuh lebih dalam akan lebih sulit untuk mengobatinya/
Seminggu setelah kami berkomunikasi lewat yahoo messegger dan hape. Kami memutuskan untuk bertemu langsung. Pertemuan ini bisa menjadi awal sebuah cerita baru. Tapi bisa juga akhir cerita yang baru saja terjalin.
Aku mulai memikirkan hal yang terburuk yang mungkin terjadi. Seperti jika nanti dia datang tapi berpura-pura tidak mengenaliku ketika kami bertemu. Atau bahkan dia tak datang sama sekali seperti janjinya.
Hei laki-laki di depanku sepertinya aku mengenalnya. Baju kemeja kotak-kotak berwarna biru dengan tas ransel hitam. Itu dia. Lebih tampan aslinya daripada foto yang dipajang difacebook. Seperti ada angin yang berhembus ketika dia berjalan. Membuatku senyum sendirian.
Sengajaku membawa buku untuk menutupi wajah. Jadi aku bisa memperhatikan gerak-geriknya dengan leluasa. Hape kubuat posisi silent, berjaga-jaga kalau dia menghubungi jangan sampai ketahuan aku sudah ada disini.
Kuputuskan untuk duduk didalam cafe, dengan pemandangan langsung ke taman. Dari situ lebih  leluasa mengamatimu yang sedang mencariku di setiap sudut taman. Telingamu tak lepas dari hape mencoba menghubungi, mencari tahu dimana posisiku sekarang. Untung hapeku sudah dalam posisi silent.
Sungguh kutak sanggup menahan rasa geli. Tak kuhiraukan tatapan bingung penggujung cafe lainnya melihatku senyum-senyum sendirian. Padahal di sekitar tidak ada pemandangan yang lucu.
Ups, tak sengaja kita saling bertatap mata. Segera kututupi mukaku dengan buku, berpura-pura membaca.  Semoga tidak ketahuan. Kau melewatiku begitu saja. Lega...
Ada rasa menjalar diam-diam dalam hati. Dejavu, sungguh aneh sekali rasa ini. Baru pertama kali melihatmu tapi terasa telah lama kita saling mengenal. Tak pernah kumerasakan perasaan ini sebelumnya. Hei, kau berbalik arah tiba-tiba tepat ke arahku. Bagaimana lagi kumenghindarimu.
“Ria?” tanyamu padaku sambil menyodorkan tangan mengajak salaman.
“Bukan” jawabku. Tak kuhiraukan tangamu yang mengajak salaman.
“Pasti Ria nih” Kau bersikukuh sambil duduk dibangku sebelahku. Tampak geram diwajahmu. Aku hanya senyum. Sudah ketahuan, yaa lebih baik terus terang.
Hanya perlu  seminggu  sejak pertama kali bertemu kau  kenal keluarga besarku. Dan seminggu kemudian kau kenalkan aku pada ibumu. Dan kini aku telah menjadi istrimu, bahagia hatiku. Bertemu  jodohku dengan satu klik.
Dan setelah menjadi istrimu baru aku menyadari begitu banyak alasan dan cara yang pasti membuat kita bertemu. Mulai dari kesamaan hobi, teman, lingkungan dan pekerjaan. Jodoh memang tak mungkin salah apalagi tertukar.


**Tamat**

Cerebral Palsy Mikrosefali

 Sebuah pesan dari sesama orangtua yang memiliki anak dengan mikrosefali muncul di whatssaapku.  Setelah mengucap salam dia bertanya. Mbak, ...