Saturday, 26 August 2017

Nyatanya Saya Belum Merdeka

72 tahun Indonesia merdeka, merayakan kebebasan dari penjajah berkat jasa para pejuang kita. Semua warga Indonesia merayakannya dengan mengadakan berbagai perlombaan, mulai dari panjat pinang, balap karung, lomba makan kerupuk dan lainnya. Baca juga  5 gunung terbaik untuk upacara 17 Agustus.

Di tengah kemeriahan  perayaan 17 Agustusan saya menyempatkan diri membaca tulisan mbak Nur Rochma  mengenai makna kemerdekaan bagi wanita di webnya KEB (Kumpulan Emak Blogger) dan sukses bikin saya merenung dan  ternyata saya belum merdeka.  

Saya tahu kalau tidak ada kebebasan yang sebebas-bebasnya selalu ada  hal yang harus dipertanggung jawabkan di setiap langkah yang kita ambil. Apalagi setelah  seorang wanita menikah, semua aktivitasnya tentu harus seijin suaminya.

Masalahnya terjadi ketika suami mngijinkan tetapi keadaan selalu tidak mendukung saya untuk mencari ilmu gratisan, bersosialisasi dengan yang lain karena saya mempunyai anak bayi. Kenapa begitu sedikit sarana yang mendukung ibu yang mempunyai anak kecil untuk maju.

Bagaimana  saya bisa maju atau wanita lain yang senasib dengan saya bisa maju secara finasial sedang skill dan ruang yang saya punya untuk bergerak begitu terbatas.

Setiap ingin ikut kegiatan di luar rumah, yang terlintas di kepala hanya apa boleh bawa anak-anak? Apakah anak saya akan nyaman selama berlangsung  kegiatan yang saya ikut nanti atau anak saya justru nanti akan mengganggu konsentrasi peserta lain apabila dia tiba-tiba rewel?

Seringkali akhirnya saya mengurungkan kegiatan di luar demi anak-anak dan akhirnya menimba ilmu di dunia maya yang artinya saya harus mengorbankan masa istirahat saya, baik itu tidur malam atau siang demi maju dan berhasil.

Saya belum merdeka, karena ruang gerak saya masih terbatas dan belum terfasilitasi dengan baik, ketika saya harus mengikuti rapat orang tua murid sambil membawa bayi dan harus menyusui tak ada tempat untuk menyusui dengan leluasa karena wali murid laki-laki dan wanita digabung di ruang yang sama.

Saya belum merdeka, ketika mengendarai kendaraan umum dan membawa bayi sedang di dalam angkutan masih saja ada orang tak peka, merokok dengan seenaknya tak peduli ada bayi di hadapannya.

Saya belum merdeka, ketika membaca berita di koran, majalah dan media sosial lainnya justru timbul rasa takut pada diri saya sehingga tidak merasa nyaman berada di luar rumah.

Saya belum merdeka sehingga harus memproteksi anak-anak sedemikian rupa, menjejali mereka dengan segala nasehat dan petuah agar mereka tidak merasakan apa yang namanya dibully atau menjadi pembully.

Saya belum merdeka, ketika berjalan di jalan raya, sedang hati saya was-was dengan tingkah pola pengendara motor yang masih belia namun sudah diijinkan orangtuanya membawa kendaraan sebelum waktunya.

Saya belum merdeka, karena masih banyak hal yang saya cemaskan dan membuat saya merasa tidak nyaman.

Sedangkan menjadi ibu itu berarti mengasah kepekaan terhadap sesama, seperti yang mbak Nur Rochma tulis, bagaimana saya bisa peka jika yang saya rasa hanya takut, cemas dan tidak nyaman.

Yang memang semua itu masalah saya sendiri, saya tahu semua ada masanya, nikmati saja apa yang kita miliki dan tetap berusaha semaksimal kita mampu.

Tapi pernahkah terlintas masih banyak wanita-wanita di luar sana yang belum merdeka. Terpaksa bekerja keras demi keluarga bekerja pagi hingga malam karena suaminya malas bekerja. Atau masalah KDRT yang kian menggila, ketika suami merasa berkuasa dan istri hanya pembantu yang pantas dihina, kemudian dipakai kembali  seperti tak terjadi apa-apa, setelah sumpah serapah dan bogem mentah yang dilontarkan hilang dari ingatan di kepala.

Yakin kita wanita yang merdeka? Karena merdeka bukan masalah semboyan saja, ini soal rasa dan ekspresi jiwa.


5 comments:

  1. Merdekanya aku yang paling sederhana pas bisa masak Indomie pake cabe rawit. Hahahaha. Soalnya di rumah Indomie diumpetin

    ReplyDelete
  2. Saya mba, yang sering kursus online demi menambah ilmu. Padahal ikutan workshop bisa menambah pertemanan secara nyata, interaksi lebih baik. Tapi kemudian saya berpikir, mungkin kesempatan saya baru bisa ikutan online, hihi.

    ReplyDelete
  3. Judulnya puitis mb. Tapi dg punya blog mbak khairiah tentunya sdh meredeka untuk mengekspresikan pikiran dan gagasan

    ReplyDelete
  4. to some extent, saya sepertinya sudah merdeka. Well, berharap agar bisa selalu bis amenjadi diri sendiri dan mengekspresikan jiwa..

    ReplyDelete
  5. Dalam beberapa hal sepertinya saya sudah merdeka dengan bisa kemana-mana tanpa minta sangu orang tua dan tidak dibebani pertanyaan "kapan menikah". hehe

    ReplyDelete

Terima kasih sudah Berkunjung. Please tinggalkan jejak biar kenal